Manajemen Risiko

MANAJEMEN RISIKO

Fungsi utama manajemen risiko adalah mengidentifikasi seluruh risiko kunci, mengukur dan mengelola posisi risiko sesuai kebijakan dan tata cara Perseroan. Sebagai salah satu perusahaan investasi terbesar di Indonesia, PT MNC Invetsma Tbk (“Perseroan”) senantiasa berupaya mengokohkan kemampuan dalam mengelola risiko usaha.

Saat ini, kebijakan manajemen risiko Perseroan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh Direksi. Pedoman tersebut merupakan kebijakan manajemen risiko yang bertujuan untuk memastikan adanya sumber daya keuangan yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan operasional serta aksi korporasi Perseroan dan entitas anak melalui pengelolaan risiko terkait fluktuasi mata uang asing, fluktuasi suku bunga, dan risiko kredit.

Pada tahun 2015. Perseroan telah mengidentifikasi sejumlah risiko yang berpotensi mempengaruhi usaha Perseroan dan entitas anak, yaitu:

Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing

Risiko mata uang asing adalah risiko dari nilai wajar atau arus kas masa mendatang dari suatu instrumen keuangan sehubungan dengan perubahan dari nilai tukar mata uang asing yang terutama berasal dari kegiatan usaha Perseroan (ketika pendapatan dan beban terjadi dalam mata uang yang
berbeda dari mata uang fungsional Perseroan) dan nilai pinjaman dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (USD).

Perusahaan melakukan pengawasan secara ketat terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang paling menguntungkan Perseroan pada waktu yang tepat. Walaupun saat ini, Manajemen tidak menganggap perlu untuk melakukan transaksi forward/swap mata uang asing sebagai upaya lindung nilai (hedging), namun kemungkinan ini tetap
diperhatikan.

Seluruh pendapatan dan beban Entitas Anak berupa mata uang Rupiah. Jika sebagian dari kewajiban Entitas Anak adalah dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing melemah maka muncul risiko nilai tukar valuta asing yang akan dihadapi Perseroan. Kondisi ini tentunya akan memberikan dampak negatif terhadap kemampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban tersebut di atas.

Risiko Tingkat Suku Bunga

Risiko suku bunga adalah risiko di mana nilai wajar atau arus kas masa datang dari suatu instrumen keuangan berfluktuasi akibat perubahan suku bunga pasar. Pengaruh dari risiko perubahan suku bunga pasar berhubungan dengan pinjaman Perseroan dan anak usahanya yang dikenakan suku bunga mengambang.

Pada tahun 2015 Bank Indonesia mengoreksi tingkat suku bunga acuan dari 7,50% pada November 2014. Dengan kenaikan tingkat suku bunga. cost of fund Perseroan berpotensi meningkat. sehingga mempengaruhi kegiatan operasional dan kinerja keuangan Perseroan.

Dalam mengantisipasi dampak dari risiko ini. Perseroan menetapkan kebijakan untuk mencari pembiayaan perbankan dengan tingkat bunga yang rendah dan pinjaman yang akan memberikan spread bunga yang kecil serta jangka waktu pinjaman yang lebih fleksibel. Kebijakan ini akan memungkinkan Perseroan melakukan pelunasan segera apabila terjadi lonjakan tingkat suku bunga.

Selain itu. Perseroan dan anak perusahaan juga senantiasa memonitor secara ketat fluktuasi suku bunga pasar dan ekspektasi pasar sehingga dapat mengambil langkah yang paling menguntungkan secara tepat waktu. Saat ini, Manajemen tidak menganggap perlunya melakukan swap suku bunga untuk lindung nilai. Namun, kemungkinan ini tetap diperhatikan.

Biaya pembangunan dan pengembangan properti dapat terkena dampak dari fluktuasi tingkat suku bunga pinjaman. Entitas Anak tidak mempunyai kendali atas fluktuasi tingkat suku bunga dan kebijakan bank-bank kreditur dalam menangani masalah ini. Meningkatnya tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh kreditur, maka biaya yang dikeluarkan akan ikut meningkat sehingga akan mempengaruhi kegiatan operasional dan kinerja keuangan Perseroan dan Entitas Anak. Untuk mengurangi dampak risiko perubahan tingkat suku bunga, Perseroan dan Entitas Anak melakukan metode pembayaran bertahap dengan jangka waktu yang lebih panjang ataupun pinjaman dengan bunga tetap.

Besarnya bunga dan cicilan yang harus dibayar oleh pembeli apartemen sangat dipengaruhi oleh fluktuasi tingkat suku bunga pinjaman. Kenaikan tingkat suku bunga pinjaman pemilikan apartemen dapat menyebabkan orang menahan atau mengurungkan niatnya untuk membeli apartemen sehingga pada akhirnya kondisi ini dapat mengganggu kinerja keuangan Perseroan dan Entitas Anak.

Risiko Kredit

Perseroan dihadapkan pada risiko kredit dari kegiatan operasi dan dari aktivitas pendanaan yang timbul sebagai akibat kegagalan dari mitra usaha Perseroan atau Entitas Anak dalam memenuhi liabilitas kontraktualnya sehingga menimbulkan kerugian bagi Perseroan dan Entitas Anak. Risiko kredit pada Perseroan dan Entitas Anak ini berasal dari deposito bank, investasi jangka pendek, piutang usaha dari penyewaan ruangan, piutang dari pemegang polis dan piutang-piutang usaha lainnya.

Tidak ada risiko kredit yang terpusat secara signifikan. Perseroan dan Entitas Anak mengelola dan mengendalikan risiko kredit pada piutang usaha dengan menetapkan batasan jumlah risiko yang dapat diterima untuk pelanggan individu dan memantau eksposur terkait dengan batasan-batasan tersebut.

Langkah mitigasi atas risiko ini adalah dengan menerapkan kebijakan untuk menempatkan dana pada institusi keuangan yang layak serta terpercaya, lalu memberikan piutang usaha kepada pihak ketiga terpercaya dan pihak berelasi serta dengan memilih mitra usaha yang tepat. Paparan risiko terhadap Perseroan dan Entitas Anak serta mitra usaha terus dipantau dan nilai agregat transaksi terkait tersebar di antara rekanan yang telah disetujui.

Risiko Likuiditas

Risiko yang muncul saat posisi arus kas Perseroan menunjukkan ketidakcukupan dalam pendapatan jangka pendek untuk menutupi kebutuhan pengeluaran jangka pendek. Perseroan dan Entitas Anak dalam hal ini menjaga keseimbangan kas dan setara kas dan senantiasa mengevaluasi posisi arus kas dan arus kas aktual dengan cara mencocokkan profil jatuh tempo antara aset keuangan dengan liabilitas keuangan sehingga pendapatan yang diterima dapat memenuhi kebutuhan operasional dan membayar utang jangka pendek dan jangka panjang Perseroan dan Entitas Anak pada saat utang jatuh tempo.

Risiko Transaksi Intra-Grup

Merupakan risiko akibat ketergantungan suatu entitas baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap entitas lainnya dalam di bawah Perseroan dalam rangka pemenuhan kewajiban perjanjian tertulis maupun perjanjian tidak tertulis baik yang diikuti perpindahan dana dan/atau tidak diikuti perpindahan dana. Langkah mitigasi atas risiko ini adalah dengan menerapkan pengawasan dan memberikan masukan atas transaksi yang dilakukan antar entitas anak.

Industri media di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang berkesinambungan dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan ekonomi Negara yang positif, ditandai oleh konsumsi domestik yang kuat dan kenaikan dalam profil investasi.

Tantangan dalam sektor industri televisi adalah rencana untuk berpindah dari analog ke digital, yang mungkin terjadi secara bertahap hingga tahun 2018.

Manajemen menyadari tantangan dan perkembangan yang ada dan terus memperhatikan perkembangan industri dalam rencana tahunan dan jangka panjang. Pertumbuhan pendapatan yang kuat dan peningkatan pangsa pasar penonton, digabungkan dengan fokus manajemen pada pengendalian biaya untuk mengingatkan kompetitif di industri serta terus meningkatkan teknologi, kompetensi sumber daya manusia dan proses bisnis.

Di industri jasa keuangan, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatkan jumlah penduduk dengan pendapatan dan daya beli yang menguat dari waktu ke waktu.

Kondisi ini memberi peluang bisnis kepada perusahaanperusahaan jasa keuangan, baik dalam bentuk pemberian pinjaman untuk membiayai kredit konsumen kepada mereka yang mempunyai kemampuan membayar, dan atau menawarkan produk-produk reksadana, asuransi jiwa, asuransi kerugian atau peluang investasi kepada mereka yang mempunyai pendapatan yang memadai.

Manajemen menyadari bahwa perkembangan ekonomi Indonesia yang mengesankan ini tidak senantiasa dapat terjaga dan kondisi pasar juga berpotensi fluktuatif atau melemah karena faktor-faktor domestik (inflasi yang tinggi), regional maupun internasional. Untuk itu, pemantauan kondisi pasar senantiasa dilakukan oleh Perusahaan dan entitas anak.

Industri energi dan sumber daya alam mempunyai potensi risiko pasar yang relatif lebih tinggi karena harga komoditi yang bergerak dinamis dan ada siklus tertentu. Pemahaman yang baik tentang pergerakan pasar di masa lalu dan pemantauan perkembangan pasar jangka pendek dan jangka menengah merupakan kegiatan pokok yang ditempuh Perusahaan dan entitas anak.

Industri properti di Indonesia khususnya pengembangan perkantoran dan apartemen di kota-kota besar Indonesia, semakin didominasi oleh persaingan yang ketat dalam beberapa tahun terakhir. Perseroan harus bersaing tidak hanya dengan sesama pengembang properti lokal, namun juga pengembang mancanegara yang juga tertarik untuk memasuki industri ini. Kondisi ini dapat mendorong peningkatan biaya untuk akuisisi tanah dan adanya kelebihan pasokan ruang perkantoran/apartemen, serta dapat menyebabkan lambatnya proses persetujuan untuk pengembangan properti baru oleh pihak yang berwenang sehingga dapat berpengaruh buruk terhadap kinerja usaha Perseroan.